KENDI NUSANTARA DAN RITUAL PALU NOMONI


H. M Ali Moeslim

Bismillahirrahmanirriim

MASYARAKAT mungkin masih bertanya tanya, kenapa presiden RI memerintahkan kepada para gubernurnya untuk membawa tanah dan air dari daerah masing masing untuk disatukan dalam sebuah kendi yang dinamai kendi nusantara?

Ternyata kalau kita telusuri dari sumber sumber buku tradisi khususnya Jawa Doeloe itu adalah tradisi masyarakat Jawa khususnya jika pindahan rumah ke rumah baru, dengan harapan menghadirkan rasa “betah” atau menyatu dengan tempat atau lokasi baru dan juga mendapat kesejahteraan di tempat baru.

Istilahnya adalah membawa uborampe ke lokasi baru, adapun benda yang termasuk dalam uborampe meliputi tikar, lampu teplok, air serta bunga dalam kendi, hingga kuali.

Kuali ini tidak boleh kosong, tetapi harus isi dengan beras, bawang merah, bawang putih, tanah, air, cabai, gula, dan garam. Kuali melambangkan terpenuhinya kebutuhan penghuni rumah, tidak hanya dalam sektor pangan, tetapi juga sandang dan papan.

Sementara air serta bunga dalam kendi melambangkan ketentraman dalam hidup. Kehadiran bunga sendiri adalah simbol harapan bahwa nama penghuni akan harum di lingkungannya.

Dalam pandangan Islam walaupun yang dimaksud adalah mengharap kepada Allah SWT, ini adalah sinkretisme atau talbis (mencampur adukan) yang hak dengan bathil, bentuk khurafat bahkan adalah kemusyrikan taqrib (mendekat) kepada Allah, kusyrikan zaman jahiliah.

Mengapa ketika ada harapan dan keinginan tidak semakin mendekat kepada Allah SWT dengan memurnikan ketauhidan? Bukan mengotorinya dengan ritual ritual lain.

Tentunya ritual atau seremonial ini bertolak belakang secara diametral, jika IKN baru dirancang sebagai smart city dengan berbagai macam kriterianya, namun dibuka dengan seremony yang tidak terkait dengan pertimbangan sains dan teknologi misalnya.

 

Apakah tidak menjadi pelajaran bagi kita sebagai orang orang yang beriman? Saat sebuah tradisi atau budaya yang mengandung kemusyrikan biasanya mengundang peringatan bahkan kontan, setidaknya kejadian itu berurutan. Misalnya Gempa bumi bumi, tsunami dan likuifaksi yang dahsyat melanda Palu, Sigi dan Donggala tahun 2018.

Gempa dengan kekuatan 7,7 Skala Richter (SR),  menguncang Palu, Sigi dan Donggala, korban meninggal tercatat kurang lebih 1.948, hilang 843, ribuan, angka  akan terus bertambah  denga masih banyak korban yang tertibun akibat likuifaksi  dan longsoran di Petobo, Jono Oge dan Balaroa. Kejadian hari jumat bertepatan dengan pelaksanaan acara Palu Namoni yang diselenggarakan, menjadi cerita di masyarakat sebab akibat gempa terjadi di Palu, dan Balia disebut sebagai sebagai ritual musyrik.

Peristiwa itu mengerikan tepat saat pembukaan Palu Namoni pada 28 September 2018 di Pantai Talise terjadi gempa dan tsunami dahsyat. Tradisi Balia ini sudah tiga kali sebelumnya menghadirkan bencana, menurut masyarakat Palu pada tahun pertama 2016 gempa di Bora, malam pembukaan juga. Tahun kedua, hujan deras pas mau buka acaranya di Talise juga. Dan yang ketiga itu tsunami September di Talise,”

Palu Namoni merupakan upacara adat khas suku Kaili. Semacam acara ruwatan dengan menyembelih lembu atau kerbau dan melarung kepala lembu tersebut ke laut beserta uberampe, tradisi pantheism mengharap kesehatan dan kesejahteraan kepada sang hyang Widi.

Rasûlullâh SAW menjelaskan bahwa kezhaliman ada tiga macam. Beliau Nabi SAW bersabda:

الظُلْمُ ثَلَاثَةٌ : فَظُلْمٌ لَا يَغْفِرُهُ اللَّهُ , وَظُلْمٌ يَغْفِرُهُ اللَّهُ , وَظُلْمٌ لاَ يَتْرُكُهُ اللَّهُ. فَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لاَ يَغْفِرُهُ اللَّهُ فَالشِّرْكُ, وَقَالَ: إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ . وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي يَغْفِرُهُ اللَّهُ فَظُلْمُ الْعِبَادِ لِأَنْفُسِهِمْ فِيمَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ رَبِّهِمْ. وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لاَ يَتْرُكُهُ اللَّهُ فَظُلْمُ الْعِبَادِ بَعْضِهِمْ بَعْضًا حَتَّى يُدَبِّرَ لِبَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضٍ

Kezhaliman itu ada tiga: kezhaliman yang tidak akan diampuni oleh Allâh; kezhaliman yang akan diampuni oleh Allâh; dan kezhaliman yang tidak akan dibiarkan oleh Allâh. Adapun kezhaliman yang tidak akan diampuni oleh Allâh adalah syirik, lalu Beliau membaca (ayat yang artinya), “Sesungguhnya mempersekutukan (Allâh) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Luqmân/31:13) Adapun kezhaliman yang akan diampuni oleh Allâh (jika Dia menghendaki-pen) adalah kezhaliman hamba terhadap dirinya sendiri terkait (hak-hak) antara mereka dengan Allâh (seperti shalat atau puasa yang tidak dilakukan dengan baik-pen). Adapun kezhaliman yang tidak akan dibiarkan oleh Allâh adalah kezhaliman sebagian hamba kepada sebagian yang lain, sampai Allâh akan mengurus untuk sebagian mereka dari sebagian yang lain.” [HR. Ath-Thayâlisi)

Wallahu a’lam bishawab

Dibaca

 26 total views,  1 views today

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

Artikel Terbaru

Konsultasi