Beribadah hingga Kematian Menjemput

Oleh. K.H. M Ali Moeslim

Bismillahirrahmaanirrahiim

Penerapan syariat Islam pada aspek pribadi maupun masyarakat, pada urusan privat maupun publik, selain merupakan refleksi keimanan, juga merupakan kewajiban dasar bagi dirinya dalam status apapun yang melekat padanya.

Setiap muslim maupun muslimah diperintahkan untuk selalu terikat dengan aturan Allah Swt. Keterikatan setiap muslim dengan aturan Allah dalam setiap aspek kehidupan hukumnya wajib. Allah Swt. berfirman:

قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْٓ اَدْعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗعَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَا۠ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗوَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)

Syaikh As-Sa’di Rahimullah menjelaskan, “Allah berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad, “Katakanlah”, kepada manusia “Inilah jalanku (agamaku),” yaitu jalanku yang aku mengajak (orang) ke sana. Ia adalah lintasan yang mengantarkan menuju kepada Allah dan menuju tempat kemuliaan-Nya, yang mengandung adanya pengetahuan tentang kebenaran dan pengamalannya serta lebih mendahulukan kebenaran itu (daripada segala sesuatu), memurnikan agama hanya untuk Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya.

“Aku mengajak (kamu) kepada Allah,” maksudnya aku menganjurkan umat manusia dan para hamba untuk berjalan menuju Rabb mereka, dan aku menghimbau mereka untuk menyambutnya dan memperingatkan mereka dari perkara-perkara yang menjauhkan mereka dari-Nya. Ditambah lagi, bahwa aku “(mengajak) dengan hujjah yang nyata,” yang berasal dari agamaku. Maksudnya, aku bertumpu pada ilmu dan keyakinan tanpa ada unsur syak, kebimbangan dan keraguan. Begitu pula, “orang-orang yang mengikutiku,” mereka mengajak kepada Allah sebagaimana aku mengajak berdasarkan hujjah yang nyata tentang urusan (yang mereka dakwahkan). “Mahasuci Allah” dari hal-hal yang dinisbatkan kepada Allah dari sesuatu yang tidak pantas dengan keagungannya atau menafikan kesempurnaan-Nya.

“Dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik,” pada semua urusanku. Bahkan aku hanya menyembah Allah dengan memurnikan agama bagi-Nya. Allah Swt. berfirman:

وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ

“Beribadahlah kepada Tuhanmu hingga kematian menjemputmu.” (QS. Al-Hijr: 99)

Syaikh As-Sa’adi Rahimullah, dalam kitab tafsirnya menjelaskan: “Maksudnya, teruslah mendekatkan diri kepada Allah sepanjang waktu dengan berbagai jenis ibadah. Rasulullah saw. menunaikan titah Rabb-nya. Beliau tetap memayahkan diri dalam beribadah sehingga didatangi ajal dari Rabb-Nya; Shalla-lLâhu ‘alaihi wa sallama, dengan salam sebanyak-banyaknya.

As-salafu shalih menyatakan tiga syarat diterima amal kita adalah memilki keimanan kepada Allah Swt., benar sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw., yakni berdasarkan dalil (shawab) dan amal itu semata ikhlas karena Allah Swt.

Al-Hafidz Abu Al-Faraj ibn Al-Jauzi, mengutip pernyataan sebagian ahli hikmah:

وَالْمَعْصِيَّةُ بَعْدَ الْمَعْصِيَّةِ عِقَابُ الْمَعْصِيَّةِ، وَالْحَسَنَةُ بَعْدَ الْحَسَنَةِ ثَوَابُ الْحَسَنَةِ

“Kemaksiatan yang dilakukan setelah maksiat adalah azab bagi kemaksiatan itu, sedangkan kebaikan [ketaatan] yang dilakukan setelah kebaikan [ketaatan] sebelumnya adalah pahala bagi kebaikan itu.”

Penjelasan ini menjadi kaidah untuk menilai, apakah amal kita sebelumnya diterima oleh Allah atau tidak? Jika amal kita diterima oleh Allah, maka amal yang kita lakukan itu akan terus kita pertahankan, kemudian diikuti amal-amal shalih yang lain.

Misalnya ibadah puasa di bulan Ramadhan, ibadah haji atau umrah kita itu mabrur [diterima] atau mardud [ditolak]? Bisa dilihat dari, apakah setelah Ramadhan, haji atau umrah, dia itu menjadi lebih baik, tetap saja, atau sebaliknya?

Jika tidak menjadi lebih baik, atau tetap saja, berarti ibadah puasa ramadhan, ibadah haji atau umrahnya tidak diterima. Sebaliknya, jika setelah Ramadhan, haji atau umrah itu, lebih baik, maka itu menjadi indikasi bahwa Ramadhan, haji atau umrahnya diterima oleh Allah.

Beberapa kiat untuk mempertahankan ke-Istiqamahan terikat dengan syariat Allah Swt. di antaranya:

Pertama, memohon pertolongan kepada Allah agar selalu diberikan keistikamahan.

Kedua, menjauhi dosa dan maksiat. Dosa dan maksiat merupakan penghalang [hijab], yang menghalangi hati dari ketaatan dan ibadah kepada Allah.

Ketiga, menjaga keikhlasan, dilakukan dengan selalu menjaga kebersihan hati dari musyrik, riya’ dan sum’ah. Dampaknya tidak terbang ketika dipuji, dan tidak tumbang ketika dimaki.

Keempat, tetap istikamah dalam jemaah dakwah dan komunitas orang-orang shalih. Apalagi ketika jemaah itu benar-benar telah bersumpah menjadi penjaga Islam yang amanah.

Kelima, mempunyai visi, misi, dan tujuan hidup yang tinggi. Inilah yang oleh para ulama disebut Himmah ‘Aliyah.

Keenam, jika suatu saat kita meninggalkan kewajiban, atau kesunnahan, atau melakukan kemaksiatan, maka segera bertobat kepada Allah, dan mengganti kewajiban, atau ke-sunnahan yang kita tinggalkan.

Ketujuh, senantiasa mengkaji Sirah Nabi, para Sahabat dan orang-orang shalih. Sebabnya, mereka merupakan rule model bagi kita dalam melakukan ketaatan kepada Allah.

Wallahu a’lam bishawab

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi