Kontroversi Pengobatan Herbal dan Kimia: Bagaimana Solusi Sistemiknya?

Oleh. Retno Asri Titisari (Enno)

Salah satu sisi lain pandemi covid-19 adalah terangkatnya derajat minuman tradisional salah satunya jamu, yang kembali diminati masyarakat Indonesia. Jamu digadang-gadang mampu meningkatkan daya tahan tubuh yang sangat berguna dalam menghadapi pagebluk virus corona Covid-19 seperti sekarang. Memanfaatkan obat herbal bukanlah hal asing bagi masyarakat Indonesia. Obat ini dianggap lebih alami, sehingga kemudian banyak dipilih. Terbukti ketika covid-19 mulai merebak penggunaan empon-empon dan jamu digunakan kembali secara rutin sehingga menjadikan kurva permintaan seperti jahe, kencur meningkat tajam dan mengakibatkan kemahalan harga.

Regulasi penggunaan obat herbal di negeri ini sangatlah tidak rasional. Seringkali kontroversial terjadi disebabkan asumsi yang dikembangkan sesama aktivis kesehatan bahwa antara obat herbal dan obat kimia ini kontradiktif dan tidak bisa sejalan. Kedua obat terutama obat herbal seringkali ‘dipersalahkan’ ketika konsultasi kesehatan di instansi kesehatan, pun sebaliknya dengan pengobatan kimia ketika terapi herbal. Masyarakat menjadi terbelah dan seolah bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. Negara hanya lah berperan sebagai regulator dan fasilitator yang cukup memberikan label halal di BPOM RI atau tanda keamanan dikonsumsi setelah membayar sejumlah uang untuk tahap pengujian produk. Akhirnya hal ini banyak memicu terjadinya pengobatan ilegal baik dalam pengobatan herbal dan kimia dengan tidak melakukan pendaftaran produk. Kondisi ini tentu saja menjadi ‘pemahaman umum’ masyarakat bahwa obat menjadi murah kalau tidak diregistrasi. Tentu saja menjadikan semakin tajam kontroversial kedua obat tersebut dan jaminan penggunaan produk yang tipis.

1. Fakta dan Mitos Seputar Obat Herbal, Tanpa Efek Samping untuk Pengobatan Jangka Panjang

Ketika tubuh merasakan sakit, menyembuhkannya terkadang menimbulkan pilihan yang sulit. Apakah Anda akan mengunjungi dokter atau menggunakan pengobatan alternatif? Pilihan itu akan berujung pada penggunaan obat yang diberikan.

Seiring dengan perkembangan penemuan obat herbal dan semakin maraknya penggunaan obat tradisional, masyarakat semakin mudah mendapatkan obat-obatan ini di pasaran. Masyarakat dapat membeli obat ini secara bebas di apotik, toko obat, supermarket ataupun tempat lain. Sebagian besar masyarakat berasumsi bahwa obat herbal aman digunakan karena berasal dari bahan alami, tidak seperti obat kimia. Tapi apakah memang benar obat herbal pasti berkhasiat dan tanpa efek samping?

Efek samping adalah kejadian tidak diinginkan yang ditimbulkan akibat penggunaan obat. Efek samping dapat terjadi akibat zat obat itu sendiri, maupun zat kimia yang berperan sebagai pembawa (komponen tambahan dalam obat) dalam sediaan obat. Seluruh bahan yang masuk ke dalam tubuh manusia, baik makanan, obat, benda asing, maupun zat kimia lain dapat menyebabkan efek yang diinginkan dan tidak diinginkan.

Masalah efek samping obat tidak bisa dikesampingkan karena dapat menimbulkan berbagai dampak dalam penggunaan obat baik dari sisi ekonomik, psikologik dan keberhasilan terapi. Dampak ekonomik seperti meningkatnya biaya pengobatan dan dampak psikologik pada kepatuhan penderita dalam minum obat akan berakibat kegagalan terapi.

Efek samping obat (ESO) dikelompokkan dalam 2 katagori yaitu efek samping obat yang dapat diperkirakan dan efek samping yang tidak dapat diperkirakan seperti reaksi alergi dan idiosikratik (reaksi obat yang tidak diharapkan dan tidak berhubungan dengan dosis). Efek samping yang dapat diperkirakan dapat timbul karena aksi farmakologi yang berlebihan misalnya penggunaan obat antidiabetik oral menyebabkan efek samping hipoglikemia dan hipotensi pada pasien stroke yang menerima obat hipertensi dosis tinggi. Aksi farmakologi obat meliputi : jenis obat, rute pemberian, durasi terapi, dosis dst.

Efek samping yang tidak berupa efek utama obat juga sering terjadi. Pada sebagian besar obat munculnya efek samping ini sudah dapat diperkirakan sehingga tenaga kesehatan sudah mewaspadai munculnya efek samping ini. Sebagai contoh adalah adanya keluhan pedih,mual, muntah akibat penggunaan obat-obat penghilang nyeri dan radang serta rasa ngantuk setelah minum obat anti alergi atau obat mabuk perjalanan. Hiperemia (sering BAK) ketika mengkonsumsi herbal misalnya habbatussauda.

Dari definisi di atas benarkah tidak ada ESO untuk obat herbal?? Obat herbal adalah obat yang dibuat dari bahan alam, baik tumbuhan, hewan atau mineral. Definisi obat herbal seringkali dicampuradukkan dengan obat tradisional. Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang dapat berupa bahan tumbuhan, hewan, mineral atau campuran ketiganya yang sudah digunakan secara turun temurun untuk pengobatan. Obat tradisional sudah pasti obat herbal, tapi obat herbal belum tentu obat tradisional. Saat ini banyak ahli mengembangkan berbagai obat herbal baru, yang belum digunakan secara turun temurun, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai obat tradisional.

Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), definisi obat tradisional (OT) adalah bahan atau ramuan berupa tumbuhan, bagian hewan, mineral, atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang digunakan secara turun-temurun untuk pengobatan. Obat tradisional juga sering disebut Obat Bahan Alam (OBA). Obat tradisional di Indonesia secara umum terbagi tiga yaitu, jamu, obat herbal terstandar (OHT), dan fitofarmaka.

Jamu adalah obat tradisional berbahan dasar tumbuhan yang diolah menjadi bentuk serbuk seduhan, pil, dan cairan langsung minum. Obat herbal terstandar (OHT) adalah obat tradisional yang terbuat dari ekstrak atau sari bahan alam dapat berupa tanaman obat, sari binatang, maupun mineral. Selain itu, produk OHT juga harus melalui uji praklinis di laboratorium untuk menguji efektivitas, keamanan, dan toksisitas obat sebelum diperjualbelikan. Contoh OHT adalah tolak angin, kiranti dan antangin. Produk fitofarmaka terbuat dari ekstrak atau sari bahan alam berupa tanaman, sari binatang, maupun mineral. Proses produksinya sama-sama berteknologi maju dan sudah terstandar seperti OHT, tapi produk fitofarmaka harus melewati satu lagi yaitu harus menjalani uji klinis langsung pada manusia guna menjamin keamanannya. Stimuno, Tensigard, Xgra, Nodiar, Inlacin, VipAlbumin plus.

Satu lagi adalah Obat herbal non tradisional klasifikasi berlaku ini berlaku untuk herbal yang berasal dari bahan-bahan yang tidak lazim digunakan secara tradisional di Indonesia, tetapi berpotensi memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh. Meski masih jarang digunakan di Indonesia, obat herbal nontradisional telah digunakan di negara lain secara turun-temurun. Seperti habbatussauda, minyak zaitun dst.

Meski terbuat dari bahan alami, OT dan OHT juga mengandung senyawa kimia yang berpotensi menimbulkan risiko efek samping merugikan. Sebagai contoh, jamu temulawak. Temulawak diklaim ampuh sebagai obat peningkat nafsu makan dan mengatasi sembelit, namun tak banyak yang tahu bahwa temulawak memiliki sifat pengencer darah yang bisa menyebabkan perdarahan ginjal akut pada penderita penyakit hati. Habbatussauda memiliki sifat panas yang tidak boleh digunakan untuk ibu hamil karena menyebabkan kontraksi. Contoh lain sejumlah suplemen viagra herbal impor asal Cina telah dibuktikan mengandung hingga empat kali lipat dosis campuran senyawa kimia dari obat medis resep yang biasa digunakan untuk menangani obesitas dan anti-impotensi, yang dapat menyebabkan efek samping serius seperti gangguan jantung dan tekanan darah.

Kategori obat dan pengobatan maka masing-masing juga memiliki dosis teraupetik, uji klinik dan laboratorium yang memadai. Dan memang keterbatasan OHT dan OT adalah pada penelitian lanjutan dan terus menerus untuk menemukan jaminan keamanan produk. Tentu saja ini terlepas dari aspek percaya dan tawakal pada obat, karena tuntutan kemajuan jaman. Oleh karena kurang prospektifnya dana yang ada untuk penelitian-penelitian OT dan OHT maka banyak dilakukan secara perkumpulan dan bersifat MLM.

2. Paradigma Pengobatan Kimia vs Herbal dan Pandangan Ahli Kesehatan untuk Penggunaan Herbal yang Aman dan Tanpa Efek Samping Berbahaya

Obat adalah zat apa pun yang menyebabkan perubahan fisiologi atau psikologi organisme saat dikonsumsi.Obat-obatan biasanya dibedakan dari makanan dan zat yang menyediakan nutrisi. Konsumsi obat dapat dilakukan melalui inhalasi, injeksi, merokok, ingesti, absorpsi melalui kulit, atau disolusi di bawah lidah. Dalam farmakologi, obat adalah zat kimia, biasanya struktur kimianya diketahui, yang ketika diberikan pada organisme hidup akan menghasilkan efek biologis.

Obat Kimia yaitu obat yang mempunyai campuran bahan kimia yang tidak disintesis di dalam tubuh. Seperti obat yang beredar diwarung dan apotek. Obat sintetik adalah obat yang dibuat dari bahan sintetik dan digunakan serta diresepkan dokter dan kalangan medis untuk mengobati penyakit tertentu. Obat sintetis adalah obat modern yang dibuat dari bahan sintetik atau bahan alam yang diolah secara modern (Harmanto, 2007).

Obat kimia diidentikkan dengan obat yang diracik melalui proses kimiawi, sedangkan obat herbal umumnya dimaknai dengan obat yang berasal dari alam. Perbedaan mendasar antara obat herbal dan obat kimia adalah bahwa obat herbal mengandung campuran berbagai zat kimia. Campuran tersebut dapat saling bersinergi ataupun memiliki efek antagonis antar komponen, yang pada akhirnya akan menimbulkan efek pada tubuh manusia. Efek sinergi untuk zat kimia yang bermanfaat tentunya menguntungkan karena dapat memperkuat efek terapi. Namun efek antagonis juga dapat menguntungkan karena kemungkinan dapat mengurangi efek merugikan dari zat kimia tertentu dalam satu obat herbal. Sementara itu obat kimia adalah obat yang mengandung satu zat kimia tunggal yang dapat bekerja sendiri dan menimbulkan efek.

Maksudnya dalam obat kimia zat yang ditambahkan adalah senyawa kimia murni seperti parasetamol, cetirizin HCl dst. Sedangkan obat herbal bahan baku yang ditambahkan meski dilakukan ekstraksi tapi senyawanya masih gabungan misal teh dari simplisia daun teh ada kandungan alkaloid misal teobromin, teophilin, kafein, kandungan logam dan tanin. Contoh lain kunyit kunyit yang utama dan banyak dikenal orang adalah kemampuannya meningkatkan daya tahan tubuh. Hal ini karena kunyit mengandung zat kurkumin yang dapat bekerja sebagai antioksidan dalam tubuh. Kunyit merupakan tanaman yang memiliki aktivitas biologi salah satunya dapat berfungsi sebagai antibakteri, antiinflamasi dan antidepresan. Ekstrak etanol Kunyit positif mengandung senyawa flavonoid, tanin dan tidak mengandung senyawa alkaloid. Proses ekstraksi biasanya adalah proses pemurnian sehingga kadar yang didapatkan lebih tinggi karena tidak mengandung air dan senyawa lain. Tapi dalam kunyit kandungan kimia nya sungguh beragam bukan, belum lagi jika herbal tersebut tidak hanya 1 komposisi.

Maka jika diklasifikasikan perbedaan obat kimia dan herbal ada pada beberapa poin berikut yang disarikan dari berbagai sumber :
Obat Kimiawi :

1. Terdapat efek samping dari obat kimia yang bisa berupa efek samping langsung maupun tidak langsung atau terakumulasi. Hal ini terjadi karena bahan kimia bersifat anorganik dan murni sementara tubuh bersifat organik dan kompleks. Maka bahan kimia bukan bahan yang benar-benar cocok untuk tubuh karena Penggunaan bahan kimia pada tubuh dianggap sebagai sesuatu yang tidak terhindarkan dan digunakan secara terbatas yang dapat diterima dan ditoleransi oleh tubuh.
2. Lebih diarahkan untuk menghilangkan gejala-gejalanya saja artinya Bersifat sympthomatis yang hanya untuk mengurangi penderitaannya saja.
3. Bersifat paliatif artinya penyembuhan yang bersifat spekulatif, bila tepat penyakit akan sembuh, Lebih diutamakan untuk penyakit-penyakit yang sifatnya akut (butuh pertolongan segera) seperti asma akut, diare akut, patah tulang, infeksi akut dan lain-lain.
4. Reaksi cepat, namun bersifat destruktif artinya melemahkan organ tubuh lain, terutama jika dipakai terus-menerus dalam jangka waktu lama.
5. Harga mahal karena Hampir semua obat kimia yang kita gunakan berasal dari luar. Hal ini terjadi karena untuk menghasilkan obat kita membutuhkan teknologi tinggi, biasa investasi yang tinggi dan waktu penelitian yang lama. Alasan lain dai impor obat adalah perlunya kepercayaan atas produsen obat. Sampai saat ini kepercayaan terutama ada pada beberapa negara yang dikenal produsen obat. Bahan mahal yang diipor terdiri dari obat jadi, bahan baku obat, bahan pengemas obat, teknologi, peralatan dan mesin-mesin, tenaga ahli dan tenaga terampil. Tingginya harga terjadi karena impor menggunakan mata uang asing yang berfluktuasi sesuai kurs dan juga membuat ketersediaan tidak menentu.

Obat Herbal:

1. Obat herbal tidak hanya berkhasiat menyembuhkan gejala penyakit, tetapi juga menghilangkannya hingga ke akar penyebabnya. Hal ini karena efek obat herbal bersifat holistik (menyeluruh) sehingga tidak hanya berfokus pada penghilangan penyakit tapi juga pada peningkatan sistem kekebalan tubuh untuk melawan penyakit.
2. Obat herbal adalah produk alami yang ditemukan di alam dan benar-benar bebas dari semua jenis efek samping. Orang Indonesia telah berabad-abad meminum berbagai macam jamu tradisional dan belum pernah tercatat ada kasus efek samping yang mematikan. Namun Anda tetap perlu berhati-hati karena beberapa jenis jamu tradisional diproduksi tidak secara higienis dan bahkan dicampur zat-zat kimia sehingga berbahaya bagi tubuh. Dalam hal ini yang berbahaya bukan jamunya, namun kontaminasi jamur dan zat tambahannya.
3. Multi khasiat atau bisa menghilangkan lebih dari satu penyakit
4. Aplikasinya lebih sederhana, Jika diagnosa sudah jelas maka pengobatan dapat dilakukan di rumah dengan bantuan anggota keluarga yang lain. Bantuan dokter dibutuhkan untuk diagnosis yang benar berdasarkan data laboratorium. Rekomendasi terapi dapat diberikan oleh dokter yang juga herbalis, tetapi perawatannya bisa di rumah oleh anggota keluarga.
5. Bersifat rekonstruktif atau memperbaiki organ dan membangun kembali organ-organ, jaringan atau sel-sel yang rusak.
6. Bersifat kuratif artinya benar-benar menyembuhkan karena pengobatannya pada sumber penyebab penyakit.
7. Lebih diutamakan untuk mencegah penyakit, pemulihan penyakit-penyakit komplikasi menahun, serta jenis penyakit yang memerlukan pengobatan lama.
8. Reaksi lambat tetepi bersifat konstruktif atau memperbaiki dan membangun kembali organ-Bebas toksin Obat farmasi adalah racun. Anda tidak boleh mengkonsumsinya sembarangan. Obat herbal bebas racun sehingga aman dikonsumsi siapa pun, bahkan seringkali memberikan efek meluruhkan racun dalam tubuh (detoksifikasi).

Dokter Anggi Gayatri, Sp.FK berpendapat orang menggunakan obat herbal sebagai obat tambahan dari obat kimia yang rutin digunakan. Penggunaan bersama ini harus dilakukan dengan hati-hati karena kedua obat tersebut dapat saling berinteraksi. Interaksi ini dapat menimbulkan efek yang menguntungkan ataupun merugikan. Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) dr. Inggrid Tania, MSi keunggulan jamu herbal dari obat kimia adalah pada bahan pembuatannya. Meski diklaim lebih aman, Tania juga mengatakan bahwa obat tradisional tidak bisa memberikan efek instan. Misal dibandingkan obat sintetis pereda nyeri, obat kimia akan bekerja lebih cepat meredakan peradangan atau nyeri dibanding herbal atau jamu.

Senada dengan koleganya dokter Zaidul Akbar memiliki paradigma pengobatan tidak hanya bergantung pada obat tapi juga life style sehat yang harus dijalani. Karena banyak zat beracun yang dikonsumsi saat ini ada pada makanan dan minuman juga terjadi tumpukan racun karena pola hidup tidak sehat. Maka pengobatan dengan jamu dan herbal cukup berkhasiat jika life stylenya sehat.

dokter spesialis bedah saraf dr Roslan Yusni Hasan, SpBS, berpendapat obat yang baik harus diketahui secara detail kandungan aktifnya sebelum dikonsumsi. Selain itu, cara kerja obat di dalam tubuh juga perlu mendapat perhatian. Tak berhenti sampai di situ, efek samping setelah obat dikonsumsi dan cara penanganannya juga harus diketahui. Jika syarat-syarat di atas tidak diketahui, maka upaya penyembuhan pun menjadi tak terukur. Maka baik herbal maupun obat kimia semua harus jelas memenuhi dosis, penggunaan dan durasi yang benar agar tercapai tujuan pengobatan.

Hanya saja, perhatikan dosis dan waktu penggunaan jamu herbal jika Anda sedang menggunakan obat lain. Obat-obatan herbal jangan diminum sebelum obat medis untuk menghindari risiko interaksi senyawa kimia, dan sebaiknya dikonsumsi 1-2 jam setelah obat medis. Suplemen herbal juga tidak bisa diminum sembarangan karena reaksi tiap orang terhadap obat-obatan bisa berbeda satu sama lain. Meski punya keluhan sama, belum tentu obat herbal yang ternyata cocok untuk Anda akan memberikan khasiat yang sama.

3. Solusi Sistemik dan Pandangan Islam dalam Sistem Kesehatan yang Baik dan Benar

Masalahnya kenapa kontroversial pengobatan herbal dan obat kimia di Indonesia ini menjadi masalah yang sangat serius? Bahkan antar kedua pihak terbiasa saling ‘menyalahkan’ jika pasien menggunakan salah satu lalu berpindah ke sisi lainnya. Contoh pada pengobatan kanker dokter akan mengatakan kenapa tidak segera ditangani dan datang ke fasilitas medis untuk diperiksa dengan teliti malah pake herbal yang menjadikannya nyebar kemana-mana, coba kalau segera diperiksa, dan segera operasi mungkin hasil beda. Sebaliknya herbalis atau terapis juga mengungkapkan jika ada pasien kanker datang ditanya sudah operasi belum, dan terkesan salah jika sudah operasi karena lebih cepat berkembang dan metamorfose. Akhirnya pasien yang bingung.

Padahal jika dilihat secara benar antara pengobatan kimia dan herbal bisa bekerjasama dengan baik. Yang dibutuhkan untuk menjalani pengobatan adalah hasil pemeriksaan organ (baik laborat maupun palpitasi) dan diagnosis dokter. Setelah jelas dimana organ dan bagian yang sakit dokter dapat memberikan gambaran pengobatan dan alternatif pilihan. Terapis dan herbalis pun akan mudah melakukan pengobatan jika jelas apa sakit pasien dan seberapa serius. Tentu saja pasien juga harus mengetahui perbedaan pengobatan kimia dan herbal diatas, sehingga jika timbul ESO dan efek teraupetik obat dapat menyikapi dengan bijaksana. Sekilas sederhana sekali bukan menghilangkan kontroversial tersebut? Faktanya tak mudah kenyataan itu terjadi.

Paradigma sejatinya muncul dari pembelajaran dan sistem yang ada. Di negara ini sistem kehidupan sekuler demokrasi merebak namun tidak mendasar dan terkesan formalitas. Orang-orang sering mengungkapkan pendapat tapi kontroversial dengan pandangan yang lain. Tidak perlu lah disebut contohnya. Hal itu terjadi karena pemahaman ‘magel’ yang merebak di berbagai kalangan. Padahal jika kita lihat saat ini pengobatan komprehensif integral misal yang sempat viral beberapa saat yang lalu sebenarnya diadopsi dari sistem pengobatan di berbagai negara yang tidak terjadi kontroversial. Para terapis, herbalis dan pengobat tradisional jika dibahasakan dari ISO bisa bekerjasama dan bersinergi dengan dokter, perawat dan apoteker dalam RS atau klinik. Asalkan secara keilmuan dan paradigma juga diupgrade. Masalahnya selain kebiasaan mencari kambing hitam yang menggejala di negeri ini, komersialisasi kesehatan menjadikan segala sesuatu yang berkaitan kesehatan mahal dan sulit dijangkau. Sehingga terbiasa berhemat, tidak mau belajar dan jumud ini subur mencengkram kontroversial yang ada.

Maka inilah kenapa dunia kesehatan juga membutuhkan pengaturan sistemik nan komprehensif. Sampai kapan kontroversial ini harus dipelihara?? Mungkin selama sistem kapitalisme golongan bebek ini merebak. Karena menjadikan negeri ini menjadi tidak memiliki identitas dan tujuan spesifik meski untuk keselamatan dan kehidupan warganegaranya. Contoh kasus ketika pandemi ini, rakyat harus berjuang hidup mengatasi ekonomi yang berat bersamaan kabar omicron menaik dan masih ditekan juga untuk sekedar aktualisasi keyakinan. Sementara para penguasa pusat sibuk berebut dana APBN utk proyek-proyek tidak pro rakyat yang tiada akhir dan tanpa tahu malu. Bicara dunia kesehatan menjadi barang mewah yang harus merogoh kocek untuk menjangkaunya.

Berbeda dengan sistem Islam dimana negara berorientasi melaksanakan syariat Islam secara kaffah sehingga maqoshid syariah dalam kehidupan manusia akan tegak. Disamping itu dalam Islam memiliki sumber-sumber keuangan negara dan pendapatannya yang berbeda dari sistem demokrasi sekuler yang sumbernya hanyalah dari pajak, investasi dan ULN. Perbedaan sumber daya finansial ini ditopang dengan adanya pengeluaran yang amanah, bahkan untuk beberapa pos pengeluaran ada dalilnya misal pos zakat pada 8 ashnaf. Paradigma kesehatan masa Islam berjaya juga terdepan dengan adanya rumah sakit yang melakukan pelayanan paripurna yang gratis dan masih memberikan bekal untuk para musafir. Penelitian demi penelitian terdepan seperti penemuan Ibnu Sina yang masih applikatif digunakan di masa ini. Sungguh rindu hidup didalamnya meski hanya dengan membaca siroh Rasul dan sejarah peradaban Khilafah Islamiyyah. MasyaAlloh..

 

Referensi

Hariana, A.H., 2007, Tumbuhan obat dan khasiatnya, Jakarta: Penebar Swadaya. Harmanto, dan Subroto, 2007, Pilih Jamu dan Herbal Tanpa Efek Samping. Bandung

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Obat

https://hellosehat.com/herbal-alternatif/herbal/obat-tradisional-adalah-ot/?amp=1

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 007 tahun 2012 tentang Registrasi Obat Tradisional

Vickers A, Zolman C, Lee R. Herbal Medicine. ABC of Complementary Medicine (ISBN 0 7279 12372) London: BMJ Books; 2000, edited by Dr Zollman and Dr Vickers.

Ekor M. The growing use of herbal medicines, issues relating to adverse reactions and challenges in monitoring safety. Frontiers in Pharmacology; 2014:4(177).

https://amp.suara.com/health/2020/08/07/210820/jamu-herbal-vs-obat-kimia-untuk-pengobatan-mana-yang-lebih-cespleng

Mengenal Efek Samping Obat untuk Kesehatan Kita

https://www.facebook.com/100021492891847/posts/1016717265721360/?app=fblhttps://uad.ac.id/id/waspada-efek-samping-obat/
https://amp.kompas.com/sains/read/2017/08/23/080400423/obat-kimia-atau-obat-herbal-mana-yang-lebih-baik

https://www.zurich.co.id/id-id/blog/articles/2020/10/kandungan-dan-manfaat-utama-kunyit-bagi-kesehatan-tubuh

Dibaca

 31 total views,  1 views today

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

Artikel Terbaru

Konsultasi