BIMARISTAN : PELAYANAN KESEHATAN YANG BERKUALITAS DAN BERTANGGUNG JAWAB (Seri Kejayaan Islam bidang Kesehatan)

Imad Siddiq, pegiat Komunitas Literasi Islam (KLI)

***
Bimaristan (arti : rumah sakit namun dengan fungsi yang melebihi fungsi saat ini) yang paling awal didirikan pada akhir abad kesembilan oleh Khalifah ‘Al-Mu’tadid. Ia meminta Al-Razi untuk mengawasi pembangunan serta pelaksanaanya.

Dalam penentuan lokasi terbaik rumah sakit didirikan, Al-Razi menempatkan potongan daging segar di berbagai tempat, lalu beberapa waktu kemudian, ia memeriksa kemudian menentukan lokasi rumah sakit. Tempat dimana daging mengalami paling sedikit pembusukan, maka di tempat itulah rumah sakit didirikan.

Kisah diatas memperlihatkan, bahwa Ar-Razi menyadari bahwa rumah sakit haruslah ditempatkan dilokasi dengan tingkat higienitas terbaik. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir kasus infeksi akibat lingkungan. Saat rumah sakit ini dibuka, terdapat 25 dokter, termasuk dokter mata, ahli bedah, dan ahli tulang. Hingga tahun 1258 dokter dan spesialistik terus bertambah dan berhenti ketika bangsa Mongol menghancurkan Kota Baghdad.

Bimaristan dibuka 24 jam untuk semua orang. Pada beberapa departemen, pemeriksaan dokter dilakukan berdasarkan gender, demi kenyamanan pelayanan. Pasien wanita dilayani oleh dokter wanita serta dilayani oleh perawat wanita. Tempatnya pun terpisah diantara dua sayap gedung, namun dengan fasilitas dan sumber daya yang serupa. Untuk mengobati kasus yang tidak membutuhkan rawat inap, bimaristan juga menyiapkan poli rawat jalan lalu dokter meresepkan obat untuk dibawa pulang.

Demi pencegahan kasus infeksi. Pasien rawat inap diharuskan memakai pakaian rumah sakit yang disiapkan secara terpusat dari sebuah departemen suplai pakaian, sedangkan pakaian milik pasien disimpan. Kamar pasien terdapat tempat tidur khusus dengan seprai yang bersih. Kamar dan bangsal rumah sakit rapi dan bersih, dengan sirkulasi udara yang sinar matahari yang melimpah. Untuk memastikan kebersihan serta higienitas, Inspektur ditugasi untuk mengevaluasi kebersihan rumah sakit dan kamar setiap harinya. Bahkan, bukan hal yang aneh, penguasa setempat secara periodik melakukan kunjungan pribadi demi memastikan pasien di bimaristan mendapatkan perawatan terbaik dan berkualitas.

Diet (makanan dan minuman) pasien pun diatur sesuai kondisi dan penyakitnya. Makanan dengan protein berkualitas tinggi seperti ayam dan unggas lainnya, daging sapi dan domba, serta buah-buahan dan sayuran segar diberikan setiap harinya.

Kualitas pelayanan medis yang dilakukan oleh dokter juga slalu dievaluasi dan bahkan terdapat mekanisme arbitrase. Seperti yang diceritakan oleh Ibnu al-Ukhuwah dalam bukunya, Ma’alim al-Qurbah fi Thalab al-Hisbah.

“Jika pasien sembuh, maka dokter dibayar. Jika pasien meninggal, orang tuanya dapat melaporkan dan bertemu kepala dokter; memperlihatkan resep yang ditulis oleh dokter. Jika kepala dokter menilai bahwa dokter yang dilaporkan telah melakukan tugasnya dengan sempurna tanpa cela, maka kepala dokter akan menyampaikan bahwa kematian itu adalah hal yang wajar; namun jika kepala dokter menilai sebaliknya, dia memberitahu mereka: Ambilah uang darah kerabatmu dari dokter tersebut; dia membunuhnya dengan kinerja buruk dan kelalaian. Dengan cara terhormat ini, mereka yakin bahwa pengobatan dilakukan oleh orang-orang berpengalaman dan terlatih”.

Sumber bacaan:
David W. T. 2017. The Islamic Roots of the Modern Hospital. Aramco World Vol 68 No 2.

Dibaca

 2 total views,  2 views today

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi