Jangan Khawatir, Jangan Bersedih

Oleh. H. M Ali Moeslim

Bismillahirrahmanirrahim

Bisa dibayangkan bagaimana kekhawatiran yang Abu Bakar rasakan saat itu, saat ia bersama kekasihnya, yakni Rasulullah Saw. menyelamatkan diri dari kejaran dan upaya pembunuhan Nabi dan dirinya bersembunyi di Gua Tsur, kalau tertangkap dan membunuhnya maka tamatlah risalah Allah yang diemban oleh Rasulullah Saw. Senja hari yang tenang dan gunung-gunung batu yang sunyi di sekitar kota Makkah, namun situasi panas membara karena puncak pertentangan antara kafir Quraisy dan kaum mukmin tengah memuncak. Instruksi membunuh atau menangkap Nabi hidup atau mati menyebar di seantero Makkah. Begitu pula tubuh Abu Bakar berkeringat panas dan dingin, saat orang-orang Quraisy naik ke Bukit Tsur dan mengamati gua itu, saat itu merupakan detik-detik yang menegangkan. Abu Bakar melihat kaki-kaki mereka, sehingga beliau berbisik kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, sekiranya mereka melihat ke bawah telapak kakinya, pasti akan melihat kami.”

Nabi Menjawab, “Wahai Abu Bakar! Apa yang kamu kira bahwa kita ini hanya berdua; ketahuilah, yang ketiganya adalah Allah yang melindungi kita.” Itulah kenangan di Gua Tsur yang mencekam dan menegangkan. Peristiwa itu diabadikan dalam Al-Qur’an, sebagai berikut:

إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ الله إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَالله سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah). Sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kami.” Maka, Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan menjadikan kalimat orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS At-Taubah: 40)

Saat ini, banyak derita dan nestapa yang terjadi pada ummat Islam, terutama di Palestina, Iraq, Uyghur, Rakhine, Myanmar, dan negara lain yang sedang dijajah secara fisik. Sebagai orang yang beriman, resah dan sakit ikut merasakan derita yang dialami oleh saudara sesama Muslim.

Sesungguhnya Allah SWT
menjanjikan bahwa ummat Islam akan sampai pada masa kemenangan selama ummat Islam sendiri berjuang untuk meraih kemenangan itu. Janji Allah ini tertuang baik dalam firman Allah dan Hadits, di antaranya surat Muhammad ayat 7 sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Wahai orang-orang yang
beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Khalifah Ali bin Abi Thalib berkata, “Kebenaran yang tidak terorganisasi dengan baik, akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi dengan rapi.”

Pernyataan ini sungguh menarik. Karenanya, perlu mendapat perhatian dari kaum Muslim sebagai kelompok ummat yang mendapat amanah Allah untuk senantiasa menebarkan dan mempertahankan kebaikan, kedamaian, dan kebenaran di muka bumi ini dalam kehidupan ummat manusia secara keseluruhan. Allah SWT. berfirman:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik dari mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Ali Imrân: 10)

Kemudian dalam ayat lain Allah berfirman:

“Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kamu.” (QS Al-Baqarah: 143)

Sudah menjadi sunnatullâh (hukum alam) yang bersifat pasti, jika kebenaran datang, maka kebatilan akan hancur.

“Dan katakanlah yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS Al-Isrâ’: 81)

Namun perlu disadari dan dipahami, aplikasi sunnatullâh ini sangat terkait dengan pelaksanaan syarat yang Allah SWT. tetapkan. Kalau kita gali dalam Al-Qur’an, tampaklah bahwa syarat-syarat agar layak mendapatkan kemenangan dan mewarisi bumi. Pertama, beriman. Kedua, melakukan amal shalih. Amal shalih di sini adalah menerapkan syariah Islam. Ketiga, menyembah Allah. Keempat, tidak menyekutukan Allah dengan yang lain, baik dalam peribadatan, politik, ekonomi, sosial, pendidikan, budaya, sanksi hukuman, ataupun yang lain.

Mereka tidak sendiri, tidak berjuang sendiri. Mereka berkelompok. Ini dijelaskan dalam sejumlah nas, baik Al-Qur’an maupun Al-Hadis:

وَمَن يَتَوَلَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَإِنَّ حِزۡبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡغَٰلِبُونَ

“Siapa saja yang setia kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, sungguh kelompok Allah itulah yang pasti menang.” (QS Al-Maidah: 56)

Wallahu a’lam bishawab.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi