30 JURUS MENGUBAH NASIB; Hari-5 : UBAH FREKUENSI

 

Oleh : Ust. Prof. Dr. -Ing. H. Fahmi Amhar
Penyunting : Jusmin Juan

(Apa Yang Bisa Kita Ubah, Agar Allah Mengubah Nasib Kita)

Sesungguhnya tidak ada orang maupun kaum, yang mengalami perubahan nasib tanpa mereka mengubah dulu frekuensi dirinya

Di dunia ini bersliweran jutaan gelombang radio, Gelombang radio itulah yang ditumpangi siaran radio, televisi maupun sinyal ponsel kita. Tetapi kita hanya bisa menikmati salah satu saja, yakni bila frekuensi dari alat penerima kita sudah kita samakan dengan frekuensi pemancar.

Ternyata seperti itu pula hubungan komunikasi di dalam diri manusia, antara manusia dengan manusia lain, dan antara manusia dengan Sang Pencipta.

Ada manusia yang tak mampu mendengar suara hati nuraninya. Akal dan perasaan ada pada frekuensi yang berbeda, sehingga perasaannya tidak mengikuti apa yang dibenarkan oleh akalnya. Ada dokter yang tahu bahwa merokok itu merusak kesehatan, tetapi keinginannya untuk merokok tidak dapat dihindarinya. Ada juga ustadz yang tahu bahwa riba itu haram, tetapi keinginannya untuk memiliki barang mewah sekalipun dengan kredit ribawi tidak dapat dicegah. Demikian juga ada ustadzah yang kenal hukum wajibnya menutup aurot dengan jilbab (gamis) dan khimar (kerudung), kalau mengisi pengajian juga berbusana lengkap, tetapi ternyata kalau menemui tetangga di halaman rumah kerudungnya sering dilupakan. Lebih ironisnya lagi, ada seorang pejabat publik, tokoh suatu pergerakan Islam, Doktor lulusan Timur Tengah, tetapi terbukti di pengadilan telah melakukan tindak pidana korupsi. Yang dikorupsi juga dana yang secara spesifik merupakan titipan umat Islam. Ternyata frekuensi Akal dan Perasaan mereka belum sama. Kepribadian mereka masih terbelah.

Getar frekuensi yang sama antara akal dan perasaan itu hanya bisa diraih bila orang semakin sering menyamakannya. Artinya, semakin sering orang memaksa amalnya mengikuti kebenaran yang dikenal akalnya, maka akan semakin mudah dia tersentuh dengan kebenaran. Tak heran Islam mensyaratkan mukallaf (orang yang dikenal beban hukum) itu harus orang yang berakal sehat. Akal-lah yang dapat mengenali kebenaran. Sedang perasaannya (hawa nafsunya) harus dapat ia kendalikan sendiri.

Namun yang paling penting adalah mencari frekuensi yang paling utama dalam berhubungan dengan Tuhan. Tuhan adalah Zat Yang MahaTahu tentang segala sesuatu, termasuk tentang diri kita. Dia Maha Tahu apa yang terbaik bagi kita. Oleh karena itu dia berikan hidayah baik yang tersurat di dalam al-Quran, maupun yang tersirat di alam semesta dan di berbagai kejadian yang kita temui dalam kehidupan. Tetapi tidak semua hidayah itu dapat kita tangkap. Karena frekuensi kita belum kita samakan dengan frekuensi Tuhan.

Begitu pula para ilmuwan zaman dahulu, mencurahkan usaha yang maksimal dalam menyamakan frekuensinya ilahiyah, agar maksimal dalam mengenal kebenaran yang sejati. Rasulullah pernah mensyariatkan, bahwa para sahabat yang ingin bertanya tentang suatu persoalan kepada beliau, dianjurkan untuk untuk shadaqah dulu kepada faqir miskin. Shadaqah itu memuluskan jalan menyamakan frekuensi mereka dengan frekuensi pelajaran yang diberikan Nabi Saw.

Mestinya Ramadhan adalah bulan untuk mengubah frekuensi kita. Setiap amal fardhu dan nafilah dibulan ini diharapkan bisa menjadikan kita lebih mudah menyamakan frekuensi kita dengan frekuensi ilahi. Mudah-mudahan mulai Hari-5 bulan Ramadhan, kita sudah bisa mengubah FREKUENSI kita, agar Allah mengubah nasib kita.

Dibaca

 44 total views,  1 views today

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

Artikel Terbaru

Konsultasi